Blog
Manajemen Operasional

oleh Farmacare CX 30 Agustus 2026
Ketika seseorang membutuhkan obat, salah satu hal pertama yang mungkin dilakukan adalah membuka Google dan mencari: “apotek terdekat” Bagi pemilik apotek, ini berarti ada satu sumber pelanggan yang sering kali tidak membutuhkan iklan: orang yang memang sedang mencari apotek di sekitar lokasinya. Masalahnya, memiliki lokasi apotek di Google Maps saja belum tentu cukup. Calon pelanggan juga akan melihat rating, jumlah ulasan, foto, informasi jam buka, dan pengalaman pelanggan lain sebelum memutuskan apotek mana yang akan dikunjungi. Karena itu, Google Maps sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai penunjuk lokasi, tetapi sebagai etalase digital apotek. Farmacare merangkum strategi praktis untuk mengoptimalkan hal tersebut dalam ebook Apotek Bintang 5: Panduan Praktis Google Maps. Mengapa Google Maps Penting untuk Bisnis Apotek? Bayangkan seorang pelanggan sedang membutuhkan obat dan mengetik “apotek terdekat” di Google Maps. Kemungkinan besar ia akan melihat beberapa pilihan sekaligus. Pada titik ini, pelanggan belum mengetahui kualitas pelayanan masing-masing apotek. Mereka akan menggunakan informasi yang tersedia di Google Maps sebagai salah satu pertimbangan. Misalnya: Apotek A — rating 4,8 dari 350 ulasan Apotek B — rating 4,2 dari 20 ulasan Apotek C — rating 3,6 dari 45 ulasan Meskipun jaraknya sedikit berbeda, rating dan jumlah ulasan memberikan sinyal mengenai pengalaman pelanggan sebelumnya. Ebook Farmacare menempatkan ulasan Google Maps sebagai salah satu aset penting bagi apotek karena dapat menjadi bukti sosial sekaligus sumber masukan mengenai kualitas pelayanan. Rating Tinggi Saja Tidak Cukup Memiliki rating 5,0 tentu terlihat bagus. Tetapi ada perbedaan antara: 5,0 dari 3 ulasan dan 4,8 dari 300 ulasan. Karena itu, pemilik apotek sebaiknya tidak hanya mengejar angka rating, tetapi juga membangun jumlah ulasan yang cukup dan konsisten . Dalam benchmark yang disajikan di ebook Farmacare, terdapat perbedaan besar antara jumlah apotek secara keseluruhan dengan apotek yang memiliki keberadaan Google Maps yang lebih kuat dan jumlah ulasan yang memadai. Artinya, bagi banyak apotek masih terdapat ruang untuk memperbaiki reputasi digital. Langkah 1: Pastikan Apotek Sudah Memiliki dan Mengelola Profil Google Maps Langkah pertama sebenarnya sederhana: Cari nama apotekmu sendiri di Google Maps. Kemudian periksa: Apakah lokasinya sudah muncul? Apakah nama apotek sudah benar? Apakah alamatnya tepat? Apakah nomor telepon masih aktif? Apakah jam operasional sudah benar? Apakah profil tersebut sudah dikelola oleh pihak apotek? Jika lokasi belum tersedia, profil dapat dibuat melalui Google Maps. Jika lokasi sudah ada tetapi belum dikelola, pemilik apotek perlu melakukan proses klaim dan verifikasi agar dapat mengelola informasi serta ulasan yang masuk. Langkah ini merupakan bagian awal yang dibahas dalam ebook Farmacare. Langkah 2: Lengkapi Profil Apotek Jangan biarkan profil Google Maps hanya berisi: Nama apotek Alamat Nomor telepon Lengkapi informasi yang membantu calon pelanggan mengambil keputusan. Informasi yang perlu diperhatikan: Jam operasional Pastikan selalu diperbarui, termasuk ketika ada perubahan pada hari libur. Nomor telepon atau WhatsApp Gunakan nomor yang benar-benar dapat dihubungi. Website atau kanal online Jika apotek memiliki website, WhatsApp, media sosial, atau katalog online, arahkan pelanggan ke kanal tersebut. Foto Tampilkan foto yang membantu calon pelanggan mengenali apotek dan memahami kualitas tempatnya. Deskripsi Jelaskan layanan dan kategori produk yang relevan dengan apotek. Misalnya: Apotek [Nama] melayani kebutuhan obat resep, obat bebas, vitamin, alat kesehatan, dan perlengkapan P3K di [nama wilayah]. Ebook Farmacare menyarankan penggunaan informasi yang relevan dengan kebutuhan pencarian lokal dalam deskripsi profil apotek. Langkah 3: Gunakan Foto untuk Membangun Kepercayaan Calon pelanggan tidak bisa mengunjungi apotek sebelum memilihnya. Foto membantu mereka mendapatkan gambaran awal. Beberapa foto yang dapat ditampilkan antara lain: Foto bagian depan apotek Pastikan pelanggan dapat mengenali apotek ketika datang. Foto bagian dalam Rak yang rapi dan apotek yang bersih memberikan gambaran mengenai profesionalisme. Foto produk atau layanan Misalnya alat kesehatan, vitamin, atau layanan tertentu yang memang tersedia. Foto tim Pelayanan apotek pada akhirnya dilakukan oleh manusia. Menampilkan staf dapat membuat bisnis terasa lebih personal. Ebook Farmacare juga menekankan pentingnya memperbarui foto secara berkala agar profil tetap menunjukkan bahwa apotek aktif dan dikelola. Langkah 4: Jangan Menunggu Pelanggan Memberikan Review Ini mungkin bagian yang paling penting. Banyak apotek memberikan pelayanan dengan baik tetapi tidak pernah meminta pelanggan memberikan ulasan. Akibatnya, apotek dengan pelanggan yang sebenarnya puas bisa memiliki jumlah review yang jauh lebih sedikit dibandingkan kompetitornya. Padahal, setelah transaksi selesai dan pelanggan mendapatkan pelayanan yang baik, mereka berada pada momen yang paling tepat untuk memberikan feedback. Misalnya staf dapat mengatakan: “Kak, kalau pelayanan kami membantu, boleh bantu kasih ulasan di Google? Ulasan Kakak sangat membantu pasien lain menemukan apotek kami.” Sederhana. Yang penting adalah menjadikannya bagian dari SOP pelayanan, bukan sesuatu yang dilakukan sesekali. Ebook Farmacare secara khusus menyarankan agar permintaan review dilakukan pada momen yang tepat, misalnya setelah transaksi atau setelah pelanggan mendapatkan edukasi yang bermanfaat. Buat Pelanggan Mudah Memberikan Review Semakin banyak langkah yang harus dilakukan pelanggan, semakin kecil kemungkinan mereka akan menyelesaikannya. Karena itu, buat prosesnya sesederhana mungkin. Salah satu cara yang dibahas dalam ebook adalah menyediakan QR Code “Ulas Kami” di area kasir sehingga pelanggan dapat langsung menuju halaman review. Link review juga dapat disertakan dalam komunikasi WhatsApp yang memang sudah dilakukan apotek, misalnya setelah transaksi atau dalam komunikasi layanan pelanggan. Tujuannya bukan memaksa pelanggan memberikan review. Tujuannya adalah menghilangkan friksi bagi pelanggan yang memang ingin memberikan feedback. Jangan Hanya Mengumpulkan Review — Baca Isinya Ini salah satu manfaat terbesar Google Maps yang sering terlewat. Review bukan hanya alat marketing. Review adalah data mengenai pengalaman pelanggan. Misalnya, jika beberapa pelanggan memberikan komentar: “Pelayanannya ramah.” Itu berarti aspek tersebut menjadi kekuatan apotek. Tetapi jika beberapa pelanggan mengatakan: “Antreannya lama.” atau: “Obat yang dicari sering kosong.” Maka masalahnya bukan sekadar rating. Itu adalah masukan operasional. Ebook Farmacare menyarankan agar pemilik apotek menggunakan review sebagai semacam “audit gratis” untuk menemukan masalah pelayanan yang perlu diperbaiki. Bagaimana Membalas Review Google Maps? Review yang masuk sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Untuk review positif Tidak perlu membalas dengan kalimat yang terlalu panjang. Contoh: “Terima kasih atas ulasannya 🙏 Kami dan seluruh tim senang bisa membantu. Semoga pelayanan kami selalu bermanfaat dan kami tunggu kunjungan berikutnya!” Yang penting adalah pelanggan merasa bahwa apotek benar-benar membaca dan menghargai feedback mereka. Untuk review negatif Jangan langsung defensif. Gunakan pendekatan: 1. Tunjukkan empati Akui pengalaman pelanggan. 2. Arahkan ke jalur pribadi Jika membutuhkan detail transaksi atau penyelesaian masalah, lanjutkan melalui WhatsApp atau kanal customer service. 3. Tunjukkan tindakan perbaikan Jangan sekadar mengatakan “mohon maaf”. Tunjukkan bahwa masalah tersebut benar-benar ditindaklanjuti. Pendekatan ini juga membantu menjadikan review negatif sebagai kesempatan memperlihatkan kepada calon pelanggan lain bahwa apotek serius menangani keluhan. Jangan Berhenti Setelah Rating Mencapai 4,5 Mendapatkan rating tinggi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah mempertahankannya. Untuk itu, Google Maps perlu dikelola secara konsisten. Beberapa aktivitas yang disarankan dalam ebook Farmacare antara lain: membalas review memperbarui foto memberikan informasi terbaru memperbarui informasi profil menggunakan fitur update untuk berbagi informasi yang relevan mengevaluasi review negatif secara berkala Dengan demikian, Google Maps menjadi bagian dari aktivitas marketing dan operasional apotek, bukan sekadar profil yang dibuat sekali lalu ditinggalkan. Tapi Ada Satu Hal yang Lebih Penting dari Google Maps Ada risiko jika pemilik apotek terlalu fokus pada "cara mendapatkan bintang 5". Karena pada akhirnya: Rating yang tinggi tidak bisa menggantikan pelayanan yang buruk. Jika pelanggan datang dan obat yang dicari sering kosong, harga dianggap tidak kompetitif, atau staf tidak ramah, review negatif akan terus muncul. Karena itu, ebook Farmacare mengidentifikasi tiga hal yang sangat sering tercermin dalam ulasan pelanggan: 1. Stok barang lengkap Pelanggan datang ke apotek karena membutuhkan sesuatu. Jika barang yang dicari sering kosong, pengalaman pelanggan akan terganggu. 2. Harga yang kompetitif Harga merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi persepsi pelanggan terhadap apotek. 3. Pelayanan pegawai yang sigap dan ramah Teknologi dapat membantu mengurangi pekerjaan administratif, tetapi pengalaman pelanggan tetap terjadi melalui manusia. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari pembahasan akhir ebook dan dihubungkan dengan bagaimana sistem Farmacare membantu operasional apotek. Google Maps Bukan Sekadar Marketing Jika dikelola dengan benar, Google Maps dapat berfungsi sebagai tiga hal sekaligus: 1. Etalase digital Calon pelanggan melihat siapa Anda sebelum datang. 2. Saluran akuisisi pelanggan Orang yang sedang mencari apotek dapat menemukan bisnis Anda. 3. Alat evaluasi bisnis Review pelanggan menunjukkan apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki. Karena itu, targetnya bukan sekadar: “Apotek saya harus punya rating 5.” Tetapi: “Apotek saya harus memberikan pengalaman yang membuat pelanggan ingin memberikan rating 5.” Mau Membuat Apotek Lebih Menonjol di Google Maps? Farmacare telah menyusun panduan lengkap: Apotek Bintang 5: Panduan Praktis Google Maps Ebook ini membahas langkah-langkah yang lebih praktis, mulai dari setup profil Google Maps, pemetaan apotek pesaing di sekitar lokasi, strategi mendapatkan review bintang 5, cara menjaga rating di atas 4,5, hingga cara menggunakan review sebagai bahan evaluasi operasional apotek. Di dalamnya juga terdapat lembar kerja untuk membantu pemilik apotek membandingkan profil apoteknya dengan apotek-apotek lain di area sekitar. 📥 Download Gratis Download Ebook Apotek Bintang 5: Panduan Praktis Google Maps Mulai optimalkan Google Maps apotekmu—bukan hanya agar terlihat, tetapi agar lebih dipercaya oleh calon pelanggan.
oleh Farmacare CX 30 Agustus 2026
Banyak pemilik apotek berfokus pada satu hal ketika ingin meningkatkan omzet: mendatangkan lebih banyak pelanggan. Mulai dari promosi, Google Maps, marketplace, media sosial, hingga program diskon. Namun, ada satu sumber pertumbuhan yang sering kali lebih dekat dengan bisnis apotek: dokter dan klinik di sekitar apotek. Dokter dan klinik sudah berinteraksi dengan pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Sementara apotek memiliki peran penting dalam membantu pasien memperoleh obat dan produk kesehatan yang dibutuhkan. Jika keduanya dapat bekerja sama dengan baik, manfaatnya bukan hanya bagi apotek. Pasien mendapatkan pelayanan yang lebih praktis, dokter/klinik mendapatkan dukungan operasional, dan apotek berpotensi melayani lebih banyak pasien. Lalu, bagaimana cara memulainya? Mengapa Apotek Perlu Mempertimbangkan Kerja Sama dengan Dokter atau Klinik? Kerja sama apotek dengan dokter atau klinik dapat memberikan manfaat pada beberapa sisi sekaligus. 1. Pelayanan pasien menjadi lebih praktis Apotek dapat membantu memastikan obat yang dibutuhkan pasien tersedia dan dapat diproses dengan lebih cepat. Dalam ebook Farmacare, beberapa manfaat yang dibahas antara lain ketersediaan obat, pilihan yang lebih praktis bagi pasien, pemrosesan resep yang lebih cepat, serta monitoring penggunaan obat yang lebih baik. 2. Apotek dapat menjangkau lebih banyak pasien Dokter dan klinik memiliki aliran pasien sendiri. Dengan membangun kolaborasi yang tepat, apotek dapat menjadi bagian dari perjalanan pasien setelah konsultasi—terutama ketika pasien membutuhkan obat atau produk kesehatan. 3. Operasional dapat menjadi lebih terintegrasi Kerja sama yang didukung sistem digital memungkinkan dokter dan apotek berkoordinasi mengenai resep, ketersediaan obat, dan pelayanan pasien. Farmacare sendiri menyediakan RME yang terhubung dengan apotek, termasuk fitur e-Resep yang memungkinkan resep digital diproses langsung oleh apotek. Tidak Semua Dokter dan Klinik Cocok Menjadi Mitra Kesalahan yang umum adalah berpikir: "Semakin banyak dokter yang diajak kerja sama, semakin bagus." Belum tentu. Ebook Farmacare justru menekankan bahwa pemilihan calon mitra perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing apotek dan dokter/klinik. Beberapa profil yang dianggap menarik antara lain klinik yang belum memiliki instalasi farmasi, dokter yang belum memiliki tempat praktik, serta dokter yang memiliki pasien cukup ramai dan memahami aspek kerja sama. Artinya, kualitas dan kecocokan mitra lebih penting daripada jumlah mitra. Bagaimana Menentukan Dokter atau Klinik yang Potensial? Sebelum melakukan pendekatan, buat daftar calon mitra di sekitar apotek. Kemudian pertimbangkan beberapa hal: Lokasi Apotek dan tempat praktik yang berdekatan tentu lebih mudah menciptakan alur pelayanan yang praktis bagi pasien. Ebook menyebut bahwa kerja sama dapat terjadi antara lokasi yang berada di gedung yang sama maupun lokasi terpisah, dengan contoh jarak hingga sekitar 1 km. Jenis tempat praktek Calon mitra dapat berupa: praktik dokter individu praktik dokter bersama klinik pratama klinik utama Sementara rumah sakit dan fasilitas yang sudah memiliki instalasi farmasi sendiri dapat memiliki karakteristik kerja sama yang berbeda. Pola pelayanan Perhatikan pula apakah calon mitra memiliki pasien yang cukup ramai dan apakah kebutuhan pasiennya sesuai dengan kemampuan apotek. Kesiapan untuk bekerja sama Kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan kesepakatan. Kedua pihak perlu siap berkomunikasi dan menyelesaikan masalah ketika muncul gangguan dalam pelayanan. Apa yang Bisa Ditawarkan Apotek kepada Dokter atau Klinik? Tidak ada satu format kerja sama yang berlaku untuk semua apotek. Ebook Farmacare secara eksplisit menyebut bahwa bentuk kerja sama sangat fleksibel dan dapat bersifat formal, semiformal, maupun nonformal, tergantung kebutuhan masing-masing pihak. Beberapa bentuk dukungan yang dibahas dalam ebook antara lain: Penyediaan barang Apotek dapat membantu menyediakan kebutuhan seperti: BMHP untuk tempat praktik sediaan farmasi yang dibutuhkan pasien kebutuhan kesehatan lainnya Dukungan tempat praktik Dalam kondisi tertentu, apotek dapat menyediakan sarana tempat praktik dan peralatan sederhana bagi dokter. Dukungan teknologi Teknologi dapat menjadi bagian penting dari kolaborasi. Misalnya: Dokter → mengisi RME → membuat e-Resep → resep diterima apotek → apotek memproses resep → etiket dicetak. Dengan alur seperti ini, pasien tidak harus selalu membawa resep fisik dan proses di apotek dapat menjadi lebih cepat. Farmacare memang menyediakan fitur tersebut sebagai bagian dari solusi kolaborasi apotek dengan dokter/klinik. Jangan Hanya Menawarkan "Kerja Sama" Saat melakukan pendekatan, hindari menjadikan pembicaraan terlalu berpusat pada kebutuhan apotek. Misalnya: "Dok, mau kerja sama supaya resepnya bisa masuk ke apotek saya?" Pendekatan seperti ini tidak menjelaskan value bagi dokter maupun pasien. Sebaliknya, pikirkan terlebih dahulu masalah yang dapat dibantu oleh apotek. Misalnya: Bagaimana pasien mendapatkan obat setelah konsultasi? Bagaimana dokter mengetahui ketersediaan obat? Bagaimana resep dapat diproses lebih cepat? Bagaimana kebutuhan BMHP dapat dipenuhi? Bagaimana komunikasi dokter dan apotek dapat dibuat lebih mudah? Dengan begitu, pembicaraan berubah dari: "Saya ingin mendapatkan resep." menjadi: "Bagaimana kita bisa membuat pelayanan pasien menjadi lebih baik?" Ini jauh lebih sesuai dengan konsep win-win-win yang menjadi framing utama ebook: pasien mendapatkan pelayanan lebih baik, dokter/klinik mendapatkan dukungan, dan apotek mendapatkan manfaat bisnis. Kerja Sama Tidak Berhenti Setelah Kesepakatan Justru setelah kerja sama dimulai, tantangan operasional bisa muncul. Misalnya: Obat yang dibutuhkan tidak tersedia Jika terjadi gangguan supply dari PBF, komunikasi dengan dokter/klinik perlu dilakukan sesegera mungkin dan apotek perlu mencari alternatif supplier atau produk yang sesuai. Ebook juga mencontohkan pemanfaatan Farmacare Order untuk mencari alternatif supplier. Harga obat berubah Perubahan harga dari supplier atau principal dapat memengaruhi kerja sama yang sudah berjalan. Jam praktek berubah Jika jam buka apotek dan jam praktik dokter tidak lagi sinkron, pasien dapat mengalami kesulitan mendapatkan obat. Pembayaran dari asuransi/BPJS terlambat Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan terhadap modal kerja apotek yang menyediakan barang terlebih dahulu. Karena itu, komunikasi antara apotek, dokter/klinik, dan pasien harus menjadi bagian dari sistem kerja sama sejak awal. Perlukah Membuat Perjanjian Kerja Sama? Untuk kerja sama yang melibatkan berbagai kewajiban, membuat kesepakatan tertulis dapat membantu kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai: ruang lingkup kerja sama tanggung jawab masing-masing pihak mekanisme operasional pembayaran penyediaan barang penyelesaian masalah masa berlaku kerja sama Ebook Farmacare bahkan dilengkapi template Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dapat diakses oleh pembaca. Namun, ebook juga mengingatkan agar berkonsultasi dengan pihak yang memahami aspek hukum sebelum menandatangani perjanjian. Teknologi Bisa Membuat Kolaborasi Apotek dan Dokter Lebih Mudah Setelah kerja sama terbentuk, tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat kolaborasi tersebut berjalan secara efisien. Jika dokter masih menggunakan resep kertas dan komunikasi dilakukan secara manual melalui WhatsApp, sebagian proses tetap bergantung pada pekerjaan administratif. Dengan sistem digital, sebagian alur dapat diintegrasikan. Farmacare menyediakan: Rekam Medis Elektronik (RME) untuk dokter e-Resep pemrosesan resep langsung oleh apotek cetak etiket berdasarkan e-Resep laporan resep informasi ketersediaan obat fitur terkait penjualan resep dan mitra Dengan demikian, kerja sama bukan hanya soal mendapatkan lebih banyak resep, tetapi juga membangun alur pelayanan yang lebih terhubung. Mulai dari Satu Mitra yang Tepat Apotek tidak harus langsung bekerja sama dengan banyak dokter dan klinik. Justru pendekatan yang lebih realistis adalah: Petakan → pilih → tawarkan solusi → sepakati alur → jalankan → evaluasi. Mulai dari satu dokter atau klinik yang paling sesuai dengan kondisi apotek. Jika modelnya berjalan dengan baik, barulah pendekatan tersebut dapat direplikasi ke calon mitra lainnya. Ingin Panduan Lengkapnya? Farmacare merangkum pembahasan mengenai kerja sama apotek dengan dokter dan klinik dalam ebook: Buku Saku Kerja Sama Apotek dengan Dokter/Klinik Ebook ini membahas: ✓ Cara menentukan dokter/klinik yang tepat untuk menjadi mitra ✓ Berbagai bentuk kerja sama yang dapat dipertimbangkan ✓ Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam operasional ✓ Kendala yang mungkin muncul dan cara menghadapinya ✓ Template Perjanjian Kerja Sama (PKS) ✓ Pemanfaatan teknologi untuk menghubungkan dokter dan apotek 📥 Download Gratis Download Buku Saku Kerja Sama Apotek dengan Dokter/Klinik
oleh Farmacare CX 3 Maret 2026
Halo, Farmapreneur! Salah satu langkah yang memungkinkan Apoteker untuk berperan aktif dalam swamedikasi masyarakat adalah melalui Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA). Secara sederhana, DOWA merupakan daftar obat keras tertentu yang secara legal dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien tanpa resep dokter. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kemandirian masyarakat dalam mengatasi keluhan ringan secara aman dan rasional. Landasan Hukum dan Tujuan DOWA Pemerintah telah mengatur penyerahan obat ini melalui beberapa Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) yang diterbitkan secara bertahap. Berikut tiga landasan hukum utama yang perlu diketahui oleh praktisi di apotek maupun masyarakat: DOWA No. 1 (Kepmenkes No. 347/1990): Menjadi pijakan awal untuk mendukung program pemerintah dan pengobatan penyakit dasar. DOWA No. 2 (Kepmenkes No. 924/1993): Perluasan daftar obat untuk menangani penyakit dengan angka kejadian (prevalensi) tinggi di masyarakat. DOWA No. 3 (Kepmenkes No. 1176/1999): Penambahan cakupan untuk sistem organ yang lebih spesifik, seperti pencernaan dan muskuloskeletal. Mengenal Perbedaan DOWA No. 1, 2, dan 3 Meski tujuannya sama, setiap kategori DOWA memiliki karakteristik dan batasan teknis yang berbeda yang wajib dipahami oleh praktisi di apotek sebagai berikut : Fokus Penyakit dan Jenis Obat: DOWA 1 cenderung berfokus pada layanan kontrasepsi (Pil KB) dan gangguan pernapasan umum seperti asma (Salbutamol). DOWA 2 lebih diarahkan untuk mengatasi infeksi jamur kulit (Ketoconazole) dan nyeri ringan hingga sedang (Ibuprofen). DOWA 3, cakupannya meluas hingga ke area penyakit metabolik seperti asam urat (Allopurinol) serta masalah lambung (Ranitidine). Ketentuan Teknis Penyerahan: Terdapat batasan tertentu yang harus diperhatikan demi menjaga profil keamanan pasien: DOWA 1: Menekankan pada riwayat pasien, terutama untuk kontrasepsi yang memerlukan pemantauan melalui kartu pasien. DOWA 2: Mayoritas daftar obatnya merupakan sediaan luar (topikal) seperti krim atau salep. DOWA 3: Sangat memperhatikan dosis dan jumlah sediaan. Sebagai contoh, Allopurinol hanya boleh diserahkan maksimal 10 tablet untuk dosis 100mg. Berikut adalah rincian obat beserta ketentuannya: DOWA 1
Seorang apoteker mengambil obat dari rak di apotek.
oleh Farmacare CX 26 Februari 2026
Halo Farmapreneur! Tahukah Anda bahwa mengelola stok sediaan farmasi di apotek ibarat menjaga jantung bisnis kesehatan Anda tetap berdetak? Jika pengelolaannya tidak rapi, operasional dapat "tersumbat" dan pelayanan kepada pasien pun pasti ikut terhambat. Manajemen stok yang efektif bukan cuma soal tumpukan kotak di rak, tapi strategi pintar supaya apotek Anda tetap profit dan terpercaya. Mengapa Anda Wajib Mengelola Stok? Selain untuk menjamin kelancaran operasional sesuai standar regulasi, pengelolaan stok bertujuan untuk : Menjamin Ketersediaan Obat: Agar saat dibutuhkan pasien, obat tersedia dalam jumlah dan dosis yang tepat. Efisiensi Operasional: Menjaga stok tetap optimal dan terhindar dari overstock maupun kekosongan yang merugikan. Menjaga Kualitas & Keamanan: Memastikan penyimpanan sesuai standar serta memantau tanggal kedaluwarsa dengan metode FEFO dan FIFO. Mencegah Kerugian Finansial: Meminimalisir risiko barang hilang, rusak, atau kedaluwarsa. Akurasi Data: Melakukan stock opname rutin untuk mencocokkan fisik dengan catatan kartu stok. Acuan Pengadaan: Menjadi dasar perencanaan pembelian ke PBF agar lebih efektif. Apa Kata Permenkes Soal Pengelolaan Stok Farmasi? Peraturan mengenai pengelolaan stok sediaan farmasi sudah jelas tertuang dalam Permenkes No. 73 Tahun 2016. Regulasi ini mengatur siklus manajemen sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) agar tetap aman, efektif, dan efisien. Berdasarkan Pasal 3 Ayat 1 (a), berikut adalah tahapan pengelolaan yang wajib diterapkan di apotek : a. Perencanaan Dalam membuat perencanaan pengadaan, Anda perlu memperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, serta budaya dan kemampuan masyarakat sekitar. Jadi, stok yang disediakan benar-benar tepat sasaran. b. Pengadaan Untuk menjamin kualitas pelayanan, pengadaan sediaan farmasi wajib melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pastikan supplier memiliki legalitas yang jelas. c. Penerimaan Tahapan ini penting untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan, dan harga yang tertera dalam Surat Pesanan (SP) dengan kondisi fisik yang diterima di apotek. d. Penyimpanan Obat wajib disimpan dalam wadah asli pabrik dengan label yang jelas mencantumkan nama, nomor batch , dan tanggal kedaluwarsa guna mencegah kontaminasi. Simpanlah pada kondisi yang sesuai untuk menjaga stabilitasnya dan pisahkan dari barang lain. Tips: Susun obat secara alfabetis berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapinya. Gunakan sistem FEFO (kedaluwarsa terdekat keluar dulu) dan FIFO (stok lama keluar dulu) untuk mencegah kerugian. e. Pemusnahan Produk rusak atau kedaluwarsa wajib dipisahkan agar tidak bercampur dengan stok layak pakai. Pemusnahan narkotika/psikotropika wajib disaksikan Dinas Kesehatan, sedangkan obat lain disaksikan tenaga kefarmasian setempat, disertai Berita Acara Pemusnahan (Formulir 1). Resep yang sudah disimpan lebih dari 5 tahun juga dapat dimusnahkan dengan cara dibakar dan dilaporkan (Formulir 2). Terkait produk recall dari BPOM, apotek wajib mengikuti instruksi penarikan secara ketat. f. Pengendalian Pengendalian dilakukan agar stok tetap optimal. Pantau setiap pergerakan barang menggunakan kartu stok (manual atau elektronik) yang memuat nama obat, tanggal kedaluwarsa, jumlah masuk/keluar, dan sisa saldo. g. Pencatatan dan Pelaporan Dokumentasikan seluruh alur barang sejak surat pesanan, faktur, kartu stok, hingga nota penjualan. Lakukan pelaporan internal untuk manajemen apotek dan pelaporan eksternal (seperti laporan narkotika/psikotropika) sesuai kewajiban regulasi. Mau Kelola Stok Tanpa Ribet? Nah, biar nggak ribet mencatat kartu stok secara manual yang rawan kesalahan, Anda bisa gunakan software apotek seperti Farmacare. Dengan bantuan fitur digital, semua poin di atas bisa Anda kelola dengan lebih cepat, akurat, dan otomatis!
Papan petunjuk alur kerja apotek, dua apoteker di konter, rak-rak berisi obat-obatan.
oleh Farmacare CX 26 Februari 2026
SOP Apotek Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP, Pelayanan Farmasi Klinis, dan SOP Pendukung
Office desk with medicine boxes, calculator, laptop, invoice, pen, and financial papers.
oleh Farmacare CX 26 Februari 2026
faktur, invoice, PBF, PPN, batch, expiry dates
ewas pbf,laporan ewas, e-report pbf, pelaporan e-report farmasi
oleh Farmacare CX 18 Desember 2025
Penjelasan lengkap e-was dan e-report PBF: perbedaan, data yang dilaporkan, risiko, dan tips agar pelaporan farmasi lebih mudah.
Logo berbentuk salib berwarna biru kehijauan dan kuning dengan tulisan
oleh Farmacare CX 16 Desember 2025
Pendaftaran Rekam Medis Elektronik SatuSehat untuk Praktek Dokter di Apotekmu!
Seseorang menyerahkan dokumen kepada orang lain di lingkungan kantor.
oleh Farmacare CX 18 November 2025
1. Tentukan posisi yang paling cocok dengan keahlianmu Bidang farmasi luas: retail, rumah sakit, distribusi, industri, klinik, BPJS, hingga QA/QC. Semakin jelas tujuanmu, semakin mudah menyesuaikan CV, persiapan, dan strategi. 2. Update CV dengan format yang simpel & mudah dibaca Pengelola sarana apotek/distributor biasanya screening cepat (10–20 detik). Pastikan CV-mu memuat: Pengalaman kerja yang relevan Keahlian teknis (SIMONA, SIPNAP, dispensing, stock opname, pengadaan, peracikan, dsb.) Sertifikasi (STRA, pelatihan Farmacare, dsb.) Kesiapan mengurus SIPA, standby/nonstandby, dsb 3. Tulis pengalaman menggunakan aplikasi Farmacare atau sistem digital lain Banyak apotek kini memakai aplikasi manajemen modern. Sebut merek aplikasi yang pernah kamu pakai atau skills digital yang kamu kuasai. Ini sering menjadi nilai plus besar! 4. Bangun portofolio sederhana—walau hanya pengalaman operasional sederhana Misalnya: Cara kamu mengelola stok Mengatasi selisih obat Meningkatkan layanan pelanggan Pengalaman menangani resep kompleks Tulis dalam poin, masukkan ke CV atau LinkedIn. 5. Gunakan foto profesional & komunikatif di CV Pencahayaan baik, pakaian rapi, ekspresi ramah. Ini meningkatkan trust saat seleksi awal — terutama untuk posisi yang berhubungan dengan pasien. 6. Sebarkan lamaran ke banyak tempat sekaligus Semakin luas jangkauanmu, semakin besar peluangnya. Cari lowongan mana saja yang paling relevan buat kamu di Loker Farmasi Farmacare . Per hari ini (17 Nov 2025), sudah ada 700 loker, pasti ada yang sesuai untukmu! 7. Sesuaikan lamaranmu dengan tiap apotek/perusahaan Hindari “copy-paste” surat lamaran untuk lowongan berbeda. Highlight keahlian yang paling relevan untuk tiap tempat kerja: Jika apotek ramai: kecepatan & ketelitian dispensing. Jika distribusi: administrasi & kepatuhan BPOM. Jika klinik: kemampuan komunikasi & edukasi pasien. 8. Latihan menjawab pertanyaan interview paling umum Contohnya: “Kasus tersulit yang pernah kamu tangani?” “Bagaimana kamu memastikan obat tidak salah ambil?” “Apa pengalamanmu dengan obat narkotika/psikotropika?” “Bagaimana menghadapi pasien yang sulit?” Latihan membuatmu lebih percaya diri dan terdengar profesional. 9. Tunjukkan komitmen pada etika & kepatuhan Apotek dan distributor sangat memperhatikan kepatuhan: STRA, SIPA, narkotika, batch & ED, Satu Sehat, retur, audit. Tekankan bahwa kamu paham prosedur dan bertanggung jawab. 10. Tetap aktif belajar dan upgrade keahlian Ikuti webinar, kursus singkat, atau sertifikasi kecil seperti: Manajemen apotek dasar Pencatatan obat wajib lapor Pelatihan komunikasi dengan pasien Aplikasi apotek/distributor Semakin lengkap skill kamu, semakin cepat kamu “naik kelas”.
Postingan Lainnya